Rabu, 19 September 2012

Tips Mendidik Anak Yang Sulit Diatur

0 komentar


Sebagai orangtua, Anda akan merasa sangat pusing saat menghadapi anak yang sulit diatur. Gara-gara hal itu, biasanya Anda malah akan memarahi anak. Padahal sebenarnya ada cara efektif dan kreatif agar si kecil tidak lagi semaunya sendiri.

Menurut Melly Kiong, semua persoalan yang terjadi pada anak, sebenarnya awalnya karena orangtua juga.

Contohnya jika anak suka melawan, biasanya hal itu karena orangtuanya terlalu galak. Kalau anak manja, hmmm, Anda sebaiknya pikir lagi, siapa yang awalnya memanjakan anak.

Melly mengatakan, seharusnya orangtua jangan cepat menghakimi jika anak melakukan sesuatu hal yang menurut Anda salah. Sebagai orangtua, Anda juga harus melihat dari kacamata anak.

Untuk anak yang sulit diatur, Melly punya cara jitu untuk mengatasinya. Hal yang perlu dilakukan agar anak tak lagi semaunya sendiri adalah dengan membangun mental konsekuen sejak dini. Apa maksudnya?



"Buat aturan bersama-sama," ujar wanita 42 tahun ini. Melly berbagi tips saat ditemui dalam acara Interactive Talkshow & Coaching Clinic Indomaret di Kidzania, Pacific Place, Jakarta Selatan, baru-baru ini.

Dalam membuat aturan bersama ini tentu saja anak harus dilibatkan. Jika Anda ibu bekerja, ajak juga orang yang mengasuh anak sehari-hari, entah itu sang nenek atau pengasuh.

"Misalnya kalau anak minta dibelikan game. Buat dulu aturannya bersama-sama kapan boleh main game," tuturnya.

Saat membuat aturan tersebut, anak juga perlu diajarkan disiplin. Contohnya, kalau anak tidak mengikuti aturan yang sebenarnya sudah ia sepakati itu, apa konsekuensinya. Konsekuensi tersebut tentunya juga harus dibuat bersama-sama dengan anak.

Dengan melibatkan dia, si kecil akan merasa orangtuanya tidak semauanya sendiri. Anak juga seperti memiliki kekuasaan, karena dia ikut terlibat dalam pembuatan aturan tersebut.

Sebagai orangtua, menurut Melly, Anda juga perlu membangun mental juang anak. Hal ini agar anak mau berusaha meraih sesuatu yang diinginkannya.

Selama ini, anak menjadi manja karena memang orangtua lah yang memanjakan mereka. Apalagi orangtua yang bekerja. Mereka kerap merasa bersalah karena sudah menghabiskan waktunya berjam-jam di luar rumah, bukan dengan anak. Saat libur tiba, anak minta sesuatu, orangtua cenderung memberikannya, tanpa perlu si anak mengerti artinya berusaha.

Bagaimana caranya membangun mental juang anak? Melly telah mempraktekkannya pada anaknya sendiri. Ia membuat daftar kebaikan atau kepintaran yang telah dilakukan anak-anaknya dalam sepekan. Ibu dua anak itu tidak lupa menyediakan hadiah untuk anak-anaknya saat mereka mampu dan mau melakukan hal-hal baik tersebut.

Daftar kebaikan atau kepintaran ini ditulis oleh si anak sendiri. Setiap pulang bekerja, Melly akan bertanya pada anaknya, apa yang sudah si anak lakukan hari ini. Misalnya saja, mau makan sayur, bisa memakai sepatu sendiri, bisa makan sendiri, dan lain-lain.

Hadiah yang diberikan pada anak tidak perlu mahal-mahal. Mainan atau buku bacaan sesuai keinginannya bisa jadi salah satu contoh hadiah untuk anak.

"Menulis hal-hal baik ini juga termasuk salah satu cara membangun kepercayaan diri anak. Hargai hal-hal kecil yang dilakukan anak, berikan pujian," tandas wanita yang sebelum menulis buku, 21 tahun bekerja sebagai marketing.
(Sumber: Voa Islam)

Baca Selengkapnya......

CARA AMPUH MEMARAHI ANAK YANG SUSAH DIATUR

0 komentar


Sebagaimana senyuman yang damai, kadang kita harus memarahi anak. Ini bukan berarti kita meninggalkan kelembutan, sebab memarahi dan sikap lemah-lembut bukanlah dua hal yang bertentangan. Lemah-lembut merupakan kualitas sikap, sebagai sifat dari apa yang kita lakukan. Sedangkan memarahi -bukan marah-merupakan tindakan. Orang bisa saja bersikap kasar, meskipun dia sedang bermesraan dengan istrinya.

Persoalan kemudian, kita acapkali tidak bisa meredakan emosi pada saat menghadapi perilaku anak yang menjengkelkan. Kita menegur anak bukan karena ingin meluruskan kesalahan, tetapi karena ingin meluapkan amarah dan kejengkelan. Tidak mudah memang, tetapi kita perlu terus-menerus belajar meredakan emosi saat menghadapi anak, utamanya saat menghadapi perilaku mereka yang membuat kita ingin berteriak dan membelalak. Jika tidak, teguran kita akan tidak efektif. Bahkan, bukan tidak mungkin mereka justru semakin menunjukkan "kenakalannya".


Sekali lagi, betapa pun sulit dan masih sering gagal, kita perlu berusaha untuk menenangkan emosi saat menghadapi anak sebelum kita menegur mereka, sebelum kita memarahi mereka.

Selebihnya, ada beberapa catatan yang bisa kita perhatikan: Ajarkan Kepada Mereka Konsekuensi, Bukan Ancaman

Anak-anak belajar dari kita. Mereka suka mengancam karena kita sering menghadapi mereka dengan gaya mengancam. Mereka melihat bahwa dengan cara mengancam, apa yang diinginkannya dapat tercapai. Dari kita, mereka juga belajar meluapkan kemarahannya untuk menunjukkan "keakuannya".

Saya tidak memungkiri, banyak pengaruh luar yang bisa mengubah perilaku anak. Teman-teman sebaya, khususnya yang sangat akrab dengan anak, bisa mempengaruhi anak. Ia meniru temannya dari cara bicara, bertindak, mengekspresikan kemarahan, sampai dengan kata-kata yang diucapkan. Kadang anak memahami apa yang dikatakan, tetapi terkadang anak tidak tahu apa maksudnya. Ia hanya menirukan apa yang didengar.

Perbincangan kita kali ini bukanlah tentang peniruan. Karena itu marilah kita kembali berbincang bersama bagaimana ancaman kepada anak, acapkali tidak menghasilkan perubahan yang baik. Ancaman tidak banyak bermanfaat untuk menghentikan kenakalan anak atau perilaku yang membuat kita sewot. Sebaliknya, ancaman justru membuat anak belajar berontak dan menentang. Salah satu sebabnya, anak merasa orangtua tidak menyayangi ketika kita meneriakkan ancaman di telinga mereka. Selain itu, kita sering lupa menunjukkan apa yang seharusnya dikerjakan anak manakala kita asyik melontarkan ancaman.

Lalu apa yang perlu kita lakukan? Pertama, Adalah buruk memarahi tanpa memberikan penjelasan. Sekali waktu kita perlu duduk bersama dalam suasana yang mesra dengan anak untuk berbicara tentang aturan-aturan.

Kedua, kita bisa membuat komitmen bersama dengan anak untuk mematuhi aturan. Misalnya, mintalah kepada anak agar tenang ketika ada tamu. Kalau ada yang perlu disampaikan, atau anak menginginkan sesuatu, hendaknya menyampaikan kepada orangtua dengan baik-baik dan bersabar bila belum bisa memenuhinya.

Bersama dengan komitmen ini kita bisa membicarakan dengan anak konsekuensi apa yang bisa diterima bila anak mengamuk di saat ada tamu. Sekali lagi, konsekuensi ini disampaikan dengan nada yang akrab. Bukan ancaman. Bila anak melakukan hal-hal negatif yang sangat mengganggu, orangtua bisa mengingatkan kembali kepada anak dan lagi-lagi tidak dengan nada mengancam.

Di sinilah letak beratnya. Kita acapkali mudah kehilangan kendali. Kita mudah membelalak saat marah, tetapi lupa untuk konsisten.

"Ibu / Bapak Sudah Bilang Berkali-kali."

Perilaku yang menjengkelkan memang lebih mudah diingat, lebih membekas dan cenderung menggerakkan kita untuk segera bertindak. Sebaliknya perilaku positif cenderung kurang bisa mendorong kita untuk memberi komentar, kecuali jika perilaku tersebut benar-benar sangat mengesankan. Konsumen yang kecewa pada suatu produk, akan segera menggerutu ke sana kemari, meski kekecewaan itu sebenarnya tidak seberapa. Tetapi konsumen yang puas cenderung akan diam saja, kecuali jika kepuasan itu sangat menakjubkan. Orangtua dan anak juga demikian. Orangtua mudah ingat perilaku negatif anak, sementara anak mungkin tidak bisa melupakan tindakan orangtua yang menyakitkan hatinya.

Salah satu kebiasaan umum orangtua yang menyakitkan hati anak sehingga bisa melemahkan citra dirinya adalah ungkapan, "Ibu / Bapak sudah berkali-kali bilang, tapi kamu tidak mau mendengarkan."

Ungkapan ini memang efektif untuk membuat anak diam menunduk. Tetapi ia diam karena harga dirinya jatuh, bukan karena menyadari kesalahan. Jika ini sering terjadi, anak akan memiliki citra diri yang buruk. Dampak selanjutnya, konsep diri dan harga diri (self esteem) anak akan lemah. Anak melihat belajar memandang dirinya secara negatif, sehingga lupa dengan berbagai kebaikan dan keunggulan yang ia miliki. Sebaliknya orangtua juga demikian, semakin sering berkata seperti itu kepada anak, kita akan semakin mudah bereaksi secara impulsif. Kita semakin percaya pada anggapan sendiri bahwa anak-anak kita memang bandel, menjengkelkan dan susah dinasehati.

Tidak mudah memang, tetapi kebiasaan memarahi anak dengan ungkapan "Bapak kan sudah bilang berkali-kali" atau yang sejenis dengan itu, harus kita kikis secara sadar dari sekarang. Kita perlu menguatkan tekad untuk berkata yang lebih positif, betapa pun hampir setiap komentar kita masih buruk.

Jangan Cela Dirinya, Cukup Perilakunya Saja

Suatu saat, kira-kira jam setengah dua dini hari seorang anak saya bangun dari tidurnya. Ia kemudian beranjak dan mengajak adiknya yang masih bayi bercanda, padahal adiknya baru saja tertidur. Sebagaimana ibunya, saya juga sempat emosi. Hampir-hampir saya tidak dapat mengendalikan emosi, tetapi saya segera tersadar bahwa yang dilakukan oleh anak saya merupakan cerminan dari dari rasa sayangnya kepada adik. Nah, apa yang terjadi jika saya mencela anak saya? Apalagi kalau saya memelototi dan menghardiknya keras-keras, iktikad baik itu bisa berubah menjadi kemarahan sehingga anak justru mengembangkan permusuhan kepada adiknya. Ia bisa belajar membenci adiknya.

Apa yang saya ceritakan hanyalah sekedar contoh. Tidak jarang anak menampakkan perilaku "negatif", padahal ia tidak bermaksud demikian. Suatu ketika, pulang dari play-group anak saya berkata, "Bapak kurang ajar." Setelah saya tanya maksudnya, ternyata dia tidak mengerti makna kurang ajar. Ia mengatakan, "Kurang ajar itu ya main-main, sembunyi-sembunyian."

Kita sangat mudah keliru menangkap maksud anak. Kita gampang terjebak dengan apa yang kita lihat. Karenanya kita perlu belajar untuk lebih terkendali dalam menilai anak. Jangan sampai terjadi anak punya maksud baik, tetapi justru kita cela dirinya sehingga justru mematikan inisiatif-insiatif positifnya. Bahkan andaikan ia memang melakukan tindakan yang negatif, dan ia tahu tindakannya kurang baik, yang kita perlukan adalah menunjukkan bahwa ia seharusnya bertindak positif. Kita luruskan perilakunya. Bukan mencela dirinya. Sibuk mencela anak membuat kita lupa untuk bertanya, "Kenapa anak saya berbuat demikian?" Di samping itu, celaan pada diri -dan bukan pada tindakan-bisa melemahkan citra diri, harga diri dan percaya diri anak. Pada gilirannya, anak memiliki motivasi yang rapuh.

Sebagian kita merasa tidak merasa mencela anak, padahal ucapan kita menyudutkan anak. Misalnya, "Kamu kenapa tidak mau mendengar nasehat bapak? Heh? Kamu selalu saja ngeyel."

Pada ucapan ini, fokus kemarahan kita adalah anak sebagaimana kita tunjukkan dengan kata kamu. Bukan tindakannya yang salah.

Jangan Katakan "Jangan"

Barangkali tidak ada kata yang lebih sering diucapkan oleh orangtua pada anak melebihi kata "jangan". Kita menggunakan kata jangan begitu melihat anak melakukan tindakan yang kurang kita sukai. Kita juga menggunakan kata jangan, bahkan di saat kita mengharap anak melakukan yang lain. Padahal kata jangan tidak membuat mudah mengerti apa yang seharusnya dilakukan. Akibatnya, anak sulit memenuhi harapan orangtua, sementara orangtua bisa semakin jengkel karena merasa nasehatnya tidak didengar anak. Orangtua merasa anaknya suka ngeyel (kepala batu, orang Bugis bilang).

Lalu, apakah kita tidak boleh memberi larangan? Saya tidak dapat membayangkan betapa hancurnya sebuah dunia tanpa ada larangan sama sekali. Begitu pun keluarga. jangan katakan jangan pada saat ia sedang melakukan kesalahan. Tunjukkanlah apa yang seharusnya dilakukan. Atau bersabarlah sampai ia menyelesaikan maksudnya, Kalau kita tidak mau anak bermain pasir di teras, katakanlah, "Nak, main pasirnya di teras saja, ya?" Singkat, padat, jelas dan positif. Bukan, "Ayo, jangan main pasir di teras. Saya pukul kamu nanti."

Kapan sebaiknya kita sampaikan larangan? Saat terbaik adalah ketika anak sedang akrab dengan orangtua. Dalam suasana netral, larangan yang kita berikan pada anak akan lebih efektif. Anak lebih mudah memahami. Mereka bisa menerimanya sebagai aturan. Bukan menganggapnya sebagai serangan kepada dirinya.
(sumber: detik healt)

Baca Selengkapnya......

TIPS MENAGATASI ANAK YANG SULIT DIATUR

0 komentar


Kita pernah menjadi anak-anak, sedangkan anak-anak tidak pernah menjadi kita, orangtua. Oleh karena itu, dalam mendidik anak, masuklah ke dalam posisi anak kita, bukan memaksakan kehendak kita sendiri," tambah Melly. Kesalahan orangtua lainnya adalah sering terlalu cepat menyimpulkan perilaku anak yang dianggap tidak sesuai nilai-nilai yang dimiliki.

Bila anak-anak menunjukkan sikap yang sulit diatur, Anda bisa mencoba mengatasinya dengan melakukan beberapa tips berikut:

1. Melibatkan anak untuk membuat aturan bersama sehingga ketika ia melanggar, ia bisa diingatkan lagi mengenai aturan-aturan yang telah disepakatinya. Buat konsekuensi dari pelanggaran tersebut berupa hukuman yang juga disetujui oleh anak. Jadi ketika mendapat hukuman, anak tidak kaget lagi karena ia yang menyetujui konsekuensi tersebut.


2. Bangun mental juang anak-anak. Biasakan agar anak mendapatkan sesuatu dengan perjuangan. Misalnya ia akan mendapatkan mainan apabila dapat membuat prestasi tertentu. Bahkan untuk uang jajan, biasakan memberinya sesuai kebutuhan anak. Jika anak menginginkan lebih, anak harus melakukan sesuatu yang bermanfaat atau membanggakan agar bisa mendapatkan uang lebih tersebut.

3. Bangun kepercayaan diri mereka. Biasakan untuk memuji setiap perbuatan baik yang dilakukan anak di rumah, sekecil apa pun, untuk membangun kepercayaan dirinya. Berikan sebutan-sebutan yang membuat anak bangga kepada dirinya seperti "si pintar" atau "si cantik" atau "si cerdas".

4. Bangun "Museum Kasih Ibu". Abadikan setiap momen bersama anak-anak. Misalnya menyimpan tiket bioskop ketika nonton bersama, menyimpan tiket pesawat ketika melakukan liburan bersama, atau menyimpan foto dan video kenangan dengan baik. Semua benda kenangan tersebut dapat dibuka dan dikenang bersama anak-anak suatu hari, untuk mengingatkan anak-anak akan masa-masa bahagia bersama ibu dan ayah.

5. Buat catatan-catatan yang mendekatkan ibu dengan anak. Misalnya sebelum anak berangkat sekolah, tuliskan catatan-catatatan tentang betapa sayangnya Anda kepada anak, lalu masukkan ke dalam kotak pensil. Atau tempelkan kertas berisi pesan-pesan sayang Anda di kulkas ketika Anda akan bertugas ke luar kota agar anak selalu merasa dekat dengan Anda. Buat pesan-pesan yang menyentuh anak sehingga anak mengerti apa yang boleh dan tidak boleh dilakukannya tanpa merasa diperintah.

Sumber : http://female.kompas.com/

Baca Selengkapnya......

Minggu, 16 September 2012

E-KTP

0 komentar


Sebagian KTP elektronik atau EKTP yang sudah selesai dicetak siap dibagi kepada masyarakat mulai Senin (18/6) . Kepala Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (Disdukcapil) Kota Banjarmasin Rachmah Noorlias mengatakan, distribusi EKTP tahap kedua dari Kementerian Dalam Negeri (Kemdagri) sudah tiba beberapa hari lalu. Kemarin (13/6), distribusi telah diteruskan ke kecamatan-kecamatan.
“Cuma dua kecamatan yang mendapat tambahan, masing-masing Banjarmasin Barat sekitar 3 ribu keping dan Banjarmasin Timur 2.497 keping,” ujarnya. Pada distribusi tahap pertama di bulan Februari 2012, setiap kecamatan sudah mendapat 100 keping EKTP, kecuali Banjarmasin Tengah yang menerima 200 keping. Tapi penyerahannya ke masyarakat menunggu distribusi tahap kedua.
“Kenapa dua kecamatan saja? Karena proses pencetakannya juga bertahap,” imbuhnya. Pada Kamis (14/6) hari ini, pihaknya akan mengirimkan surat pengantar berisi daftar nama warga pemilik EKTP yang telah selesai dicetak tersebut ke kantor kecamatan dan kelurahan untuk ditempel. Selanjutnya, warga yang namanya tercantum dapat mengambil EKTP ke kantor kecamatan setempat.
“Kami tidak mengirimkan undangan lagi. Jadi, warga yang harus proaktif mengecek namanya di pengumuman tersebut,” katanya. Rachmah menambahkan, waktu pengambilan EKTP tidak dibatasi. Warga yang ingin mengambil EKTP disyaratkan untuk membawa surat undangan pembuatan EKTP, KTP asli, atau kartu keluarga.
Sampai akhir April 2012, tercatat wajib KTP yang telah melakukan perekaman data di kantor kecamatan mencapai 355.883 orang atau 83,42 persen. Selama bulan Mei 2012, ada penambahan warga yang merekam data sekitar 1600 orang.
Sedangkan sisa warga yang belum membuat EKTP sesuai kuota dari pusat sekitar 55.400 orang atau 14 persen. “Untuk warga yang datanya dinyatakan rusak dari pusat dan harus merekam ulang, kami masih dalam proses print out untuk mengetahui contact person-nya,” ucapnya. (naz)
Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (Disdukcapil) Kota Banjarmasin mewacanakan untuk menonaktifkan Kartu Tanda Penduduk (KTP) warga Banjarmasin, pada Desember 2012 mendatang.

Hal ini sesuai dengan Perpres No 67 tahun 2011 tentang perubahan kedua atas Perpres No 26 tahun 2009 tentang Penerapan KTP Berbasis Nomor Induk Kependudukan secara Nasional. (sumber:http://banjarmasinkota.go.id)

Baca Selengkapnya......

Sabtu, 15 September 2012

UJIAN KOMPETENSI GURU (UKG)

0 komentar



Apakah benar akan di adakan UKG ulang untuk Mata Pelajaran IPA SMP...?
Pernah ada kabar dari seorang teman di Daerah (tepatnya di daerah Balangan)beliau mengatakan bahwa pada bulan Oktober 2012 nanti akan diadakan UKG ulang, tapi setahu saya bahwa pada bulan Oktober nanti adalah UKG yang akan dilaksanakan untuk para KEpala Sekolah dan bagi tenaga pendidik yang belum mengikuti tes UKG yang di laksanakan pada gelombang pertama dbi bulan Agustus 2012.


Terlepas dari itu semua....mungkin ada baiknya kita mencoba kembali menyimak bagaimana sih mencoba menyikapi itu semua.....apakah memang kita sudah siap untuk hal tersebut...dan apakah kita sudah memahami dengan benar cara kerja software yang telah disediakan dalam UKG tersebut? dan lain sebagainya...
Nah..untuk hal itu semua tidak ada salahnya kita coba kembali melihat dan menelaah serta mempelajari kembali video tutorial UKG serta panduannya, di bawah ini coba saya sediakan untuk keperluan tersebut, jadi silahkan untuk di download dan kita pelajari sekali lagi.....
SILAHKAN DIUNDUH>>>>>
PEDOMAN UKG...
VIDEO TUTORIAL UKG...
MODEL PEMBELAJARAN IPA SMP...
MATERI IPA SMP...

Baca Selengkapnya......

KENTUT.......APA HUBUNGANNYA YAH DENGAN SIFAT SESEORANG ???

0 komentar


Tahukah Anda, ternyata mengetahui sifat-sifat seseorang yang belum kita kenal tidak sesulit yang kita duga. Banyak cara yang bisa dilakukan. Selama ini banyak hal yang dilakukan orang untuk mengukur atau mengetahui sifat dan tabiat seseorang, baik itu lewat gaya bicara, pakaian yang dikenakan, warna atau makanan kesukaannya, bentuk tampangnya, ataupun lewat zodiak/bintangnya, bahkan dengan cara yg canggih seperti melalui MTD Workshop, Management & Organization Profiling dsb.

Di bawah ini ada alternatif
yang sama sekali lain dari yang lain ….
Yaitu dengan cara mengamati sikap kentut seseorang.
Ternyata cara kentut seseorang menunjukkan sifat-sifat dan keadaan
orang tersebut.
Mari kita mencoba, termasuk orang yang bagaimanakah Kita ???
1. Orang yang Jujur
Orang yang mengaku kalau habis kentut.
2. Orang yang Tidak Jujur
Orang yang kalau kentut terus menuduh orang lain.
3. Orang yang Sabar
Orang yang menahan kentutnya sendiri
4. Orang yang Pede (Percaya Diri)
Orang yg kentutnya kenceng tanpa rasa bersalah
5. Orang yang Kejam (Sadis)
Orang yang sesudah kentut lantas mengibas-ngibaskan sarungnya ke orang lain.
6. Orang yg suka menteror (teroris)
Orang yg kentutnya tak bersuara tapi baunya minta ampuuuun.
7. Orang yang Pemalu
Orang yang kalau kentut tidak bunyi tapi merasa malu sendiri.
8. Orang yang Strategis
Orang yang menyamarkan kentutnya dengan cara kentut sambil tertawa-tawa.
9. Orang yang Bodoh
Orang yang sehabis kentut terus menarik nafas dalam-dalam untuk mengganti angin yg keluar.
10. Orang yang Hemat
Orang yang mencadangkan kentutnya (dikeluarkan sedikit-sedikit).
11. Orang yang Pelit
Orang yang senang mencium kentutnya sendiri.
12. Orang yang Ramah
Orang yang suka mencium bau kentut orang lain.
13. Orang yang Kreatif
Orang yang senang kentut di dalam air, biar bisa bunyi "blekuthuk-blekuthuk"

14. Orang yang Sok Kuat
Orang yang kalau kentut sambil ngeden sekuat-kuatnya.
16. Orang yang Pintar
Orang yang bisa hafal bau kentut orang lain.
17. Orang yang Sial
Orang yang merasa mau kentut tapi ternyata yang keluar …… ampasnya.

Baca Selengkapnya......

Rabu, 15 Agustus 2012

NILAI RATA-RATA UKG GELOMBANG PERTAMA 4,5

0 komentar

test ukg keyboard Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pendidikan dan Penjaminan Mutu Pendidik (BPSDMP-PMP) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) Syawal Gultom mengungkapkan, nilai rata-rata nasional uji kompetensi guru (UKG) gelombang pertama adalah 4,5. Menurut dia, nilai rata-rata ini sudah menggambarkan apa saja yang harus dilakukan untuk mengatasi kesulitan para guru dalam meningkatkan kompetensinya.
Dia mencontohkan, misalnya untuk mata pelajaran Matematika, apakah guru kesulitan di Aljabar, Geometri, atau Statistik. Berdasarkan hasil UKG, Kemdikbud akan mendesain diklatnya.
"Hasil UKG ini masukan berharga bagi guru untuk mengembangkan diri sendiri, masukan bagi sekolah untuk membina guru, penyelenggara diklat, serta lembaga pendidikan dan tenaga kependidikan (LPTK)," kata Syawal di Gedung Kemdikbud, Jakarta, Selasa (14/8/2012).
UKG gelombang pertama yang dimulai 31 Juli telah selesai diselenggarakan hingga 12 Agustus lalu. Sebanyak 624.702 guru telah mengikuti UKG dari total jumlah peserta yang mencapai 1.006.211 guru. UKG sendiri melibatkan 2.979 tempat uji kompetensi (TUK).
Kemdikbud sebagai penyelenggara ujian telah memastikan bahwa UKG hanya untuk memetakan dan memperoleh data awal untuk pembinaan guru selanjutnya. Singkatnya, UKG hanya untuk mengawal guru sampai mencapai batas kompetensi minimal tugas keprofesiannya dan tidak terkait dengan pemberian tunjangan profesi.
Pelaksanaan UKG gelombang kedua akan dilaksanakan pada 2 Oktober. Peserta yang ikut, selain yang terjadwal mengikuti pada gelombang kedua, juga peserta yang gagal mengikuti UKG di gelombang pertama karena kendala teknis dan administrasi. (Sumber: KOmpas)

Baca Selengkapnya......

Minggu, 05 Agustus 2012

HASIL UKG TIDAK LAYAK UNTUK PEMETAAN : PGRI

0 komentar


JAKARTA, KOMPAS.com — Hasil uji kompetensi guru (UKG) secara online yang pelaksanaannya semrawut tidak layak dijadikan sebagai data untuk pemetaan kompetensi guru.
Hasilnya diyakini tidak akan menggambarkan kompetesi guru yang dapat dijadikan pertimbangan dalam melaksanakan pembinaan guru.
"Kalaupun ada guru yang sudah mengerjakan soal UKG, sebaiknya hasil UKG tidak dianalisis dulu untuk disimpulkan sebagai hasil UKG," kata Ketua Umum Pengurus Besar Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Sulistyo di Jakarta, Kamis (2/8/2012).
Banyak soal tertukar, ungkap Sulistyo. Ada soal yang pilihan jawabannya tidak ada yang benar, gambar tidak ada sehingga soal tidak bisa dijawab dengan benar, kode mapel tertukar. Hal ini terjadi karena digitalisasi soal tidak benar.
"Jika akan dilakukan pemetaan, tidak akan mampu menggambarkan kompetensi guru yang benar," ujar Sulistyo.
Menurut Sulistyo, ia terkejut karena ternyata pada sistem ada tulisan batas lulus 70. "Ketentuan ini mengingkari niat semula sebagai pemetaan. Hal ini membuat guru resah, panik, dan tertekan," katanya.
Sulistiyo mengemukakan, PGRI menyesalkan sikap pemerintah yang diwakili Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Mohammad Nuh, yang menyalahkan operator dan guru sebagai penyebab kegagalan UKG online beberapa hari ini.
"Nah, itulah contoh menyedihkan. Penguasa selalu mencari kambing hitam orang kecil untuk dikorbankan jika mereka gagal dalam melaksanakan tugasnya," kata Sulistyo.
Ia mengingatkan agar petugas operator komputer yang sudah bekerja sangat keras dan guru yang sudah menyiapkan dengan baik tidak dikorbankan.
Menurut Sulistyo, satu minggu terakhir, guru sudah bersiap-siap, membedah kisi-kisi, belajar bahan uji, berlatih teknologi informasi, sampai mengajarnya kurang maksimal.
Jika UKG online yang kacau masih diteruskan dan hasilnya dipakai untuk pemetaan, lanjut Sulistyo, Kemendikbud bisa jadi termasuk melakukan kebohongan kepada publik dan pencemaran nama baik guru.
"Saya ingin mengingatkan agar Kemendikbud jujur dan berani introspeksi," kata Sulistyo, yang juga anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) itu.
Ia menambahkan, sesuai dengan kajian PGRI, memang harus ada perbaikan sistem, data guru, dan digitalisasi soal dalam UKG online.
"Jadi, sebaiknya segera diperbaiki. Hentikan dulu UKG online supaya tidak merugikan guru," kata Sulistyo.
By: Ester Lince Napitupulu | Kamis, 2 Agustus 2012 | 14:22 WIB

Baca Selengkapnya......

MEMPRIHATINKANNYA SOAL UKG...

0 komentar

JAKARTA, KOMPAS.com - Masalah dalam pelaksanaan Uji Kompetensi Guru (UKG) ternyata tak hanya sebatas permasalahan teknis, tetapi juga sampai menyentuh substansinya. Sekretaris Jenderal Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI), Retno Listiyarti menyampaikan sejumlah keluhan dari para guru peserta UKG di 17 daerah mengenai kualitas soal.

Berdasarkan pengakuan para guru, soal UKG memiliki banyak kekurangan. Lagipula, tak ada kaitan yang jelas antara kompetensi guru dengan soal yang diujikan.

"Soalnya banyak yang salah, kalimatnya juga terlalu umum, jauh dari subtansi, buat kami soal UKG adalah malpraktek," kata Retno dalam jumpa pers di kantor LBH Jakarta, Rabu (1/8/2012).



Retno menambahkan, banyak soal yang tidak memiliki pilihan jawaban yang benar. Selain itu, soal memiliki pertanyaan namun teks yang merujuk soal tidak tercantum serta tak ada gambar dalam soal yang sebenarnya berhubungan dengan gambar.

Pada kesempatan yang sama, Guru SMP Marsudirini Bekasi, Emanuel Sri Joko, mengungkapkan hal yang sama. Guru Bahasa Inggris ini mengeluh lantaran mendapat soal yang berbeda dengan isi materi soal.

"Saya dapat soal SMA, isi soalnya enggak jelas. Ada yang satu halaman satu soal, diminta memerhatikan tabel, tetapi tabelnya tidak ada," keluhnya.
Penulis : Indra Akuntono | Rabu, 1 Agustus 2012 | 17:42 WIB

Baca Selengkapnya......

HASIL UKG YOGYAKARTA

0 komentar

Jum''at, 03 Agustus 2012 | 17:54 WIB
TEMPO.CO, Jakarta - Hasil sementara Uji Kompetensi Guru (UKG) selama tiga hari atau sampai Rabu, 1 Agustus 2012, rata-rata 44,5. Nilai rata-rata ujian tertinggi diraih oleh para guru di Provinsi DI Yogyakarta, sementara nilai rata-rata terendah diperoleh Provinsi Maluku.

"Nilai tertinggi ada yang 91, terendah ada yang dapat 0," kata Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Mohammad Nuh ketika ditemui di kantornya, Jumat, 3 Agustus 2012.

Sebanyak 373 ribu guru tercatat mengikuti UKG selama tiga hari itu. Adapun yang sudah diolah dan dihitung nilainya ada 243 ribu. Total untuk UKG gelombang pertama ini ada 985 ribu yang terdaftar mengikuti ujian secara online maupun offline.

Menteri Nuh mengaku kecewa melihat hasil UKG yang menunjukkan nilai guru di 316 kabupaten/kota di bawah rata-rata. Berdasarkan nilai ini, Nuh mengatakan, pihaknya akan memetakan pendidikan dan pelatihan yang tepat untuk meningkatkan kompetensi semua guru.

Jika ini dibiarkan terus, kata mantan Rektor Institut Teknologi Surabaya ini, murid akan kesulitan mendapatkan pelajaran yang tepat. "Inilah yang menyebabkan bimbel-bimbel (bimbingan belajar) itu laku," kata Nuh.

Ia mensinyalir, banyak bimbingan belajar laku karena pelajarannya dapat menggenapi kebutuhan ilmu pengetahuan yang tidak diperoleh siswa dari guru di sekolah.

Pelaksanaan UKG gelombang pertama sendiri relatif kacau. Sebanyak 877 atau 27 persen dari total lokasi ujian tidak aktif. Karena kekacauan itu, pada 8 Agustus mendatang, diadakan ujian susulan dengan mengaktifkan 937 lokasi ujian khusus. Peserta yang tidak bisa mengikuti pada gelombang pertama diwajibkan mengikuti ujian gelombang kedua tersebut.

Baca Selengkapnya......
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

FANS BOX