1. Latar Belakang dan Tujuan Lampiran III
Lampiran III mengatur ruang lingkup materi untuk
jenjang Pendidikan Menengah, yaitu:
- Sekolah
Menengah Atas (SMA)/Madrasah Aliyah (MA) atau sederajat (kelas 10–12)
- Sekolah
Menengah Kejuruan (SMK)/Madrasah Aliyah Kejuruan (MAK) atau sederajat
(kelas 10–12)
Materi ini merupakan kriteria minimum yang harus
dikuasai murid agar mencapai kompetensi lulusan yang siap melanjutkan ke
perguruan tinggi, dunia kerja, atau kewirausahaan. Pendidikan menengah lebih
mendalam dan spesifik dibandingkan pendidikan dasar, dengan penekanan pada pemilihan
kelompok mata pelajaran (khususnya di SMA) serta penguatan vokasi di SMK.
Tujuannya: membentuk lulusan yang memiliki pengetahuan
mendalam, keterampilan abad 21 (kritis, kreatif, kolaboratif, komunikatif),
karakter Pancasila, serta kompetensi profesional sesuai minat dan bakat.
2. Muatan Wajib di Jenjang Pendidikan Menengah
Muatan wajib sama dengan jenjang sebelumnya, yaitu:
- Pendidikan
Agama
- Pendidikan
Pancasila
- Pendidikan
Kewarganegaraan
- Bahasa
(Bahasa Indonesia, Bahasa Daerah – bisa masuk muatan lokal, Bahasa Inggris
wajib)
- Matematika
- Ilmu
Pengetahuan Alam (IPA)
- Ilmu
Pengetahuan Sosial (IPS)
- Seni
dan Budaya
- Pendidikan
Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan (PJOK)
- Keterampilan/Kejuruan
(di SMK lebih dominan)
- Muatan
Lokal
Tambahan penting: Di SMA, murid memilih kelompok
peminatan mulai fase E (kelas 10) yang menentukan mata pelajaran pilihan
(misalnya MIPA, IPS, Bahasa, atau kombinasi).
3. Struktur Ruang Lingkup Materi Pendidikan Menengah
Lampiran III menggunakan fase sebagai berikut:
- Fase
E: Kelas 10 (umum, pengenalan pilihan)
- Fase
F: Kelas 11–12 (spesialisasi sesuai peminatan di SMA, atau konsentrasi
kejuruan di SMK)
Setiap mata pelajaran memiliki elemen dan capaian
pembelajaran yang lebih tinggi dan aplikatif.
Berikut ringkasan rinci per mata pelajaran utama beserta
contoh konkret di lapangan (disesuaikan konteks Semarang/Jawa Tengah):
|
No
|
Mata Pelajaran
|
Elemen Utama (Contoh)
|
Capaian di Fase E (Kelas 10) –
Contoh
|
Capaian di Fase F (Kelas 11–12) –
Contoh
|
Contoh Kegiatan Konkret di
Lapangan
|
|
1
|
Pendidikan
Agama
|
Ibadah,
akhlak, tasawuf, sejarah agama, kerukunan
|
Memahami
fiqih muamalah, menghormati keragaman agama
|
Menganalisis
isu kontemporer dari perspektif agama, proyek dakwah digital
|
• Kelas 11
MA: Diskusi toleransi beragama di Semarang (masjid, gereja, vihara
berdampingan) • Proyek “Aku Peduli Sesama” bantu korban banjir
|
|
2
|
Pendidikan
Pancasila
|
Profil
Pelajar Pancasila, isu global
|
Menganalisis
kasus pelanggaran Pancasila di masyarakat
|
Merancang
solusi masalah bangsa berbasis Pancasila
|
• Kelas
12: Debat “Demokrasi Pancasila vs Liberal” • Proyek gotong royong
revitalisasi Kampung Pelangi Semarang
|
|
3
|
Pendidikan
Kewarganegaraan
|
Konstitusi,
hak asasi manusia, geopolitik
|
Memahami
sistem ketatanegaraan Indonesia
|
Menganalisis
kebijakan luar negeri, simulasi sidang DPR
|
• Kelas
10: Kunjungan ke DPRD Jawa Tengah
|
|
4
|
Bahasa
Indonesia
|
Teks
sastra & nonsastra, presentasi, debat
|
Menulis
esai argumentatif, analisis novel
|
Menyusun
karya ilmiah, pidato kebangsaan
|
• Kelas
12: Lomba debat bahasa Indonesia tingkat provinsi
|
|
5
|
Bahasa
Inggris
|
Academic
& professional English
|
Diskusi
isu global, report writing
|
TOEFL/IELTS
preparation, business English
|
• Kelas
11: English Debate Club, presentasi “Tourism in Semarang”
|
|
6
|
Matematika
|
Aljabar,
kalkulus dasar, statistik lanjut
|
Fungsi,
trigonometri, probabilitas
|
Turunan
& integral (MIPA), statistik inferensial
|
• Kelas 12
MIPA: Analisis data cuaca BMKG Semarang
|
|
7
|
IPA
(Fisika/Kimia/Biologi)
|
Konsep
lanjut, eksperimen
|
Hukum
Newton, reaksi kimia, ekosistem
|
Mekanika
kuantum dasar, biokimia, genetika
|
• Kelas
11: Percobaan laboratorium di Lawang Sewu (fisika gelombang suara) • Proyek
konservasi mangrove Pantai Marina
|
|
8
|
IPS
(Ekonomi/Sosiologi/Geografi/Sejarah)
|
Analisis
sosial-ekonomi
|
Pasar
& inflasi, stratifikasi sosial
|
Ekonomi
digital, globalisasi, sejarah Indonesia modern
|
• Kelas 12
IPS: Riset pasar UMKM di Pasar Johar Semarang
|
|
9
|
Seni dan
Budaya
|
Apresiasi
& kreasi seni
|
Analisis
seni tradisional vs modern
|
Produksi
karya seni (film, musik, tari)
|
• Kelas
10: Pentas tari Gambyong atau musik gamelan Jawa
|
|
10
|
PJOK
|
Olahraga
prestasi, manajemen kesehatan
|
Strategi permainan,
fitness program
|
Coaching
dasar, analisis biomekanika
|
• Kelas
11: Latihan voli pantai atau sepak takraw khas Jateng
|
|
11
|
Keterampilan/
Kejuruan (SMK dominan)
|
Informatika,
teknik, bisnis, pariwisata, dll.
|
Pemrograman
web, CAD, akuntansi dasar
|
Proyek
capstone, magang industri
|
• SMK
Pariwisata Semarang: Magang di hotel-hotel Lawang Sewu area • SMK Teknik:
Membuat robot sederhana untuk lomba nasional
|
|
12
|
Muatan
Lokal
|
Bahasa
Jawa, batik, wayang, kuliner khas
|
Apresiasi
sastra Jawa, praktik batik
|
Produksi
batik motif Semarang, analisis wayang
|
• Kelas
10–12: Praktik membatik motif Tugu Muda atau Lumpia
|
4. Perbedaan Utama SMA vs SMK
- SMA:
Fokus akademik, pilihan kelompok mata pelajaran (MIPA, IPS, Bahasa). Fase
F lebih mendalam untuk persiapan PTN/PTK.
- SMK:
60–70% praktik kejuruan, sertifikasi kompetensi (BNSP), magang industri
wajib. Contoh di Semarang: SMK Negeri 2 (Teknik Mesin), SMK Negeri 7
(Pariwisata).
5. Pendekatan Pembelajaran yang Dianjurkan
- Project-Based
& Problem-Based Learning: Murid mengerjakan proyek nyata (misalnya
startup UMKM lokal).
- Magang
& Kolaborasi Industri: Khusus SMK, tapi SMA juga bisa (Prakerin
opsional).
- Digital
& Literasi Teknologi: Penggunaan AI, coding, data analysis.
- Penilaian
Komprehensif: Portofolio, proyek akhir, ujian sekolah + asesmen
nasional.
6. Implikasi bagi Guru, Sekolah, dan Murid di Lapangan
(Khusus Semarang/Jawa Tengah)
- Guru
harus menguasai pendekatan diferensiasi dan teknologi.
- Sekolah
SMA seperti SMA Negeri 1, 3, atau Kesatrian bisa memperkuat kelas MIPA
untuk persiapan olimpiade.
- SMK
di Semarang (seperti SMK Pariwisata atau Teknologi Informasi) mendapat
peluang besar karena industri pariwisata (Borobudur, Lawang Sewu) dan
manufaktur kuat di Jateng.
- Muatan
lokal Jawa (bahasa krama alus, batik, wayang kulit) menjadi kekuatan untuk
pelestarian budaya sekaligus daya saing.
7. Kesimpulan
Lampiran III Permendikdasmen 12/2025 memberikan kerangka
pendidikan menengah yang fleksibel, relevan dengan kebutuhan zaman, dan
berorientasi masa depan. Materi lebih mendalam, aplikatif, dan memberi
ruang besar bagi murid untuk memilih jalur sesuai minat (akademik atau vokasi).
Di lapangan, khususnya di Semarang dan Jawa
Tengah, peraturan ini membuka peluang besar untuk mengintegrasikan kekayaan
budaya lokal (batik, gamelan, kuliner) dengan keterampilan digital dan
industri, sehingga lulusan SMA/SMK tidak hanya kompeten secara nasional, tapi
juga memiliki identitas kuat sebagai putra-putri daerah yang siap bersaing di
tingkat global.
Baca Selengkapnya......