Yuk sama-sama kita coba melihat pada Lampiran I Permendikdasmen No. 12 Tahun 2025 Tentang Standar Isi: (Bagian 1)
RUANG LINGKUP MATERI PENDIDIKAN ANAK USIA DINI (PAUD)
1. Latar Belakang dan Tujuan Lampiran I
Lampiran I mengatur ruang lingkup materi untuk Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), yaitu anak usia 0–6 tahun. Materi ini bukan berupa “mata pelajaran” seperti di sekolah dasar, melainkan deskripsi capaian perkembangan anak yang terpadu.
Tujuannya sederhana: memastikan anak-anak memiliki kesiapan jasmani, rohani, sosial, emosional, dan kognitif sebelum masuk pendidikan dasar. Semua materi dirumuskan berdasarkan Standar Tingkat Pencapaian Perkembangan Anak (STPPA) yang mencakup 6 aspek utama:
- Nilai agama dan moral
- Nilai Pancasila
- Fisik-motorik
- Kognitif
- Bahasa
- Sosial-emosional
Pendekatan PAUD adalah bermain sambil belajar, bukan mengajar secara formal.
2. Struktur Ruang Lingkup Materi PAUD
Lampiran I membagi ruang lingkup materi menjadi tiga bagian besar:
A. Materi Umum (untuk semua anak PAUD) Terdiri dari 8 poin capaian perkembangan yang saling terintegrasi.
B. Materi Program Kebutuhan Khusus (untuk anak berkebutuhan khusus/disabilitas) Dibagi menjadi materi umum dan materi khusus sesuai jenis disabilitas.
Berikut penjelasan rinci poin-poin materi umum beserta contoh konkret di lapangan:
|
No |
Capaian Perkembangan |
Penjelasan Sederhana |
Contoh Konkret di Lapangan (Kegiatan PAUD/TK) |
|
1 |
Mengenal ajaran agama yang dianut, mempraktikkan ibadah sederhana, menunjukkan akhlak mulia (kasih sayang, jujur, disiplin, adil, tanggung jawab) |
Anak diajarkan keyakinan dasar bahwa Tuhan Maha Esa menciptakan segalanya, serta perilaku baik sebagai wujud syukur. |
· Anak diajak berdoa sebelum makan atau bermain sesuai agama masing-masing. · Cerita tentang “berbagi mainan karena kita ciptaan Tuhan yang sama”. · Guru memuji anak yang mengembalikan mainan teman dengan berkata “Bagus, kamu jujur!” |
|
2 |
Mengenali identitas diri, kebiasaan keluarga/masyarakat, aturan sederhana, menjaga lingkungan, identitas sebagai warga Indonesia |
Anak belajar siapa dirinya, hak & kewajiban kecil, simbol negara, dan keberagaman Indonesia. |
· Anak menyebut nama lengkap, alamat, dan anggota keluarga. · Bernyanyi lagu “Garis Suci” atau mengenal bendera Merah Putih. · Membuang sampah pada tempatnya sambil diajarkan “Kita jaga bumi ciptaan Tuhan”. |
|
3 |
Sikap peduli, berbagi, dan bekerja sama |
Anak belajar mengelola emosi dan pentingnya tolong-menolong. |
· Bermain kelompok membuat bangunan balok bersama. · Anak yang menangis diberi pelukan teman sambil guru bilang “Kita peduli teman ya”. · Membagikan camilan secara bergiliran. |
|
4 |
Sikap bertanggung jawab dan berusaha mencapai kemampuan baru |
Anak diajarkan pentingnya usaha dan kemandirian. |
· Anak diminta membereskan mainan sendiri setelah bermain. · Guru memberikan bimbingan bertahap saat anak belajar memakai sepatu sendiri: “Coba lagi ya, pasti bisa!” |
|
5 |
Menunjukkan imajinasi dan berpikir fleksibel melalui karya/tindakan sederhana |
Anak diajak berkreasi dan memecahkan masalah kecil. |
· Menggambar bebas “rumah impianku”. · Bermain “pura-pura” jadi dokter, pedagang, dll. · Membuat bentuk baru dari balok atau tanah liat. |
|
6 |
Rasa ingin tahu, mengenal persamaan-perbedaan, memecahkan masalah sederhana, pra-literasi & pra-numerasi |
Dasar sains, matematika, dan literasi awal. |
· Mengurutkan benda dari kecil ke besar. · Menghitung jumlah anak yang hadir. · Mengenal huruf dari nama sendiri. · Percobaan sederhana: “Kenapa daun mengapung di air?” |
|
7 |
Kemampuan menyimak, berbicara, pra-membaca, pra-menulis (verbal & nonverbal) |
Dasar komunikasi dan bahasa. |
· Mendongeng lalu anak menceritakan kembali. · Bermain telepon-teleponan dari gelas plastik. · Menjiplak huruf atau menggambar garis lurus/zigzag. |
|
8 |
Kebiasaan hidup bersih dan sehat, menjaga kebugaran fisik & mental |
Anak belajar merawat diri dan lingkungan. |
· Cuci tangan sebelum makan dengan lagu. · Senam kecil atau lari-lari di halaman. · Membuang sampah plastik ke tempat daur ulang. · Istirahat siang untuk kesehatan mental. |
3. Materi untuk Anak Berkebutuhan Khusus (Taman Kanak-Kanak Luar Biasa/TKLB)
Dibagi menjadi dua kelompok:
a. Materi Umum (untuk semua anak berkebutuhan khusus)
- Pembinaan hidup sehat
- Adaptasi lingkungan
- Keselamatan diri
- Penggunaan alat bantu/teknologi asistif
- Pengembangan kemandirian
Contoh konkret: Anak diajarkan cara menggunakan tongkat untuk anak tuna netra, atau cara memakai kursi roda dengan aman.
b. Materi Khusus (disesuaikan jenis disabilitas)
|
Jenis Disabilitas |
Materi Khusus |
Contoh Kegiatan |
|
Tuna netra |
Orientasi & mobilitas, sikap sosial, braille |
Latihan berjalan dengan tongkat, mengenal simbol braille sederhana |
|
Tuna rungu |
Pengembangan komunikasi (bahasa isyarat/bicara), persepsi bunyi & irama |
Belajar bahasa isyarat dasar, bermain alat musik getar |
|
Disabilitas intelektual |
Pengembangan diri (kemandirian hidup sehari-hari) |
Latihan makan sendiri, berpakaian |
|
Disabilitas fisik |
Pengembangan gerak |
Fisioterapi ringan, permainan yang melatih otot |
|
Disabilitas mental (autisme, ADHD, dll) |
Interaksi, komunikasi, perilaku; sensorik-motorik |
Terapi sensori (bermain pasir, air), latihan mengantre |
4. Implikasi di Lapangan bagi Guru dan Satuan PAUD
- Kurikulum tidak kaku: Guru bebas merancang kegiatan selama mencakup 8 capaian utama di atas.
- Pendekatan bermain: Semua materi harus disampaikan melalui permainan, nyanyian, cerita, seni, dan aktivitas motorik.
- Inklusi: PAUD reguler tetap bisa menerima anak berkebutuhan khusus ringan dengan penyesuaian sederhana.
- Penilaian: Bukan angka atau ujian, melainkan observasi perkembangan (misalnya checklist “sudah bisa berbagi mainan tanpa dipaksa”).
5. Kesimpulan
Lampiran I Permendikdasmen 12/2025 menekankan pendidikan PAUD yang holistik, berbasis perkembangan, dan berorientasi pada pembentukan karakter serta kesiapan belajar. Materi dirancang agar anak tumbuh dengan fondasi agama, moral Pancasila, kemandirian, kreativitas, dan kesehatan yang kuat.
Di lapangan, ini berarti guru PAUD/TK harus kreatif mengintegrasikan semua aspek tersebut dalam kegiatan sehari-hari tanpa membebani anak dengan pelajaran formal. Hasil akhir yang diharapkan: anak usia 6 tahun yang ceria, percaya diri, sopan, peduli lingkungan, dan siap masuk SD dengan senang hati.











0 komentar:
Posting Komentar